NeOLibRaLisMe


Mereka bicara tentang Neolibralisme

Oeh : Abdus Salam

Di Indonesia perdebatan neolibralime telah terjadi pada sidang BPUPKI. Pada 29 Mei 1945 Moh Yamin mengatakan bahwa negara menolak faham liberalisme, demokrasi ala Barat, fasisme dan negara boneka. Dewasa ini Perang isu perekonomian di indonesia berkembang paska Prof Dr Boediono dipilih menjadi Cawapres untuk SBY. Boediono dengan latar belakang ilmu ekonomi dan kebijakan yang diambilnya selama menjadi pejabat publik telah dituding sebagai neoliberal. Benarkah demikian? berawal dari sini jadilah isu neolibral sebagai senjata bagi timses pasangan capres untuk saling menunjukkan dirinya yang berniat mengutamakan kepentigan publik.

Meninjau kenelakang, neolibral merupakan pemikiran yang mulai berkembang pada tahun 1776 dimana dimotori oleh adam semit sebagai penganut paham individualis dan pembela kaum industri. Secara umum paham ini berpandangan negara sebaiknya tidak perlu ikut campur dalam penentuan nasib buruh dan mekanisme pasar. Karna pasar dapat beradaptasi dengan kondisi lapangan. Pengikut paham ini berharap dengan persaingan pasar yang berlangsung pasar dapat menyesuaikan dan memenuhi permintaan yang ada, namun yang terjadi dari logika yang berkembang di lapangan, paham ini betujuan untuk menguji siapa yang paling kuat sehingga mampu berkuasa untuk menentukan dan menciptakan kebutuhan sosial. Akibatnya si penguasa pasarlah yang berhak menentukan segalanya termasuk menentukan baik-buruknya pemerintahan yang ada.

Paham individualis ini berujung pada melucuti tanggung jawab pemerintah dalam menangani masalah sosoial, dengan ending privatisasi-privatisasi sampai privatisasi pendidikan.

Kita dapat menyimpulkan jika pasar lebih kuat, berkuasa dan mampu mendikte negara dan kepercayaan atau isme-isme yang membicarakan nasional dan sosial maka pemerintahan dapat kita tuding telah merestui dan menganut paham neolibralisme.

Mari kita lihat apakah RI telah menganut neolibral, atau masih tetap mempertahankan sistem integralisme yang telah dirumuskan sebelumnya. Kita awali dari meninjau perkembangan korporet komunikasi, perkembangan dan persaingan provider seluler lumayan berhasil menurunkan harga komunikasi, sayangnya dari model-model yang ditawarkan bukan memenuhi kebutuhan konsumen, namun menciptakan kebutuhan konsumen sehingga terpaksa menggunakan alokasi waktu yang seharusnya untuk produktivitas atau untuk kegiatan lainnya dipergunakan untuk komunikasi dengan alasan ekonomis. Selain dari itu provider berhasil menciptakan kebutuhan yang seharusnya bukan dibutuhkan dengan vasilitas free atau hampir free yang diberikan untuk berkomunikasi tanpa mempertimbangkan kerugian fisik, misalkan waktu untuk istirahat.

Dari sisi lain kita lihat, menjamurnya mal-mal dan mini market sedikit membantu koknsumen dalam menuhi kebutuhan dengan paham gaya mewah yang di tanamkan pada masyarakat. Dibalik itu kita dapat menilai perkembangan itu bukan hanya membunuh pasar-pasar tradisional dan warung-warung kcil, pemikiran ini bahkan berhasil mengarahkan pola pikir dan tujuan masyarakat untuk menjadi buruh, dengan harapan bisa bekerja diperusahaan besar atau membesarkan korporet. Setinggi apa pendidikan hanya untuk diarahkan untuk menjadi pekerja atau buruh. Coba anda perhatikan iklan pendidikan.

Dari sisi pendidikan yang merambah privatisasi dengan BHMN yang di banggakan lembaga pendidikan, sehingga kebutuhan pendidikan yang harus dinikmati oleh tiap anak bangsa hanya menjadi mimpi bagi kaum lemah dan kurang mampu.

Coba anda perhatikan dalam Kata Pembukaan UUD 1945, pasal 33 dan penjelasannya, serta pasal-pasal 23, 27 ayat (2), 31, dan 34 UUD 1945. dapat kita tafsirkan undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa bumi air dan kekayaan alam yang memenuhi hajat hidip rakyat untuk dapat dikelola oleh pemirintah dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Namun realitas yang terjadi adalah privatisasi-privatisasi BUMN dan penjualan sumberdaya alam pada pihak asing, dimana pada semua itu berlaku mekanisme pasar.

Semoga coretan ini bermanfaat, tidak ada perbuatan pembebasan yang lebih berarti tanpa pengetahun. Kita dapat berbuat hanya dengan pengetahuan yang sempurna, semoga kampus dapat menjadikan kita semua dewasa dan mampu menggali pengetahuan untuk pembebasan dan kemakmuran.

Hormat saya,

(penulis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: